Rabu, 24 Juni 2015

Hukum Hams dan Qolqolah

Hukum Hams dan Qolqolah


BAB 1
PENDAHULUAN
Membaca Al-Qur’an merupakan suatu ibadah dan jembatan untuk menuju pemahaman dan pengalaman. Kemampuan membaca aksara arab semata belum cukup bagi seseorang untuk dapat membaca al-qur’an dengan baik dan benar sebagiamana yang diajarkan oleh Rasullah SAW, dibutuhkan ilmu yang menuntunnya, yaitu ilmu tajwid. Lafadz Tajwid menurut bahasa artinya membaguskan. Sedangkan menurut istilah adalah: "Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya dengan memberi hak dan mustahaknya." Yang dimaksud dengan hak huruf adalah sifat asli yang selalu bersama dengan huruf tersebut, seperti AI Jahr, Isti'la', istifal dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan mustahak huruf adalah sifat yang nampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim, tarqiq, ikhfa' dan lain sebagainya.
Hukum mempelajari Ilmu Tajwid secara teori adalah fardhu kifayah, sedangkan hukum membaca Alquran sesuai dengan kaidah ilmu tajwid adalah fardhu 'ain. Jadi, mungkin saja terjadi seorang Qori' bacaannya bagus dan benar, namun sama sekali ia tidak mengetahui istilah-istilah ilmu Tajwid semisal izh-har, mad dan lain sebagainya. Baginya hal itu sudah cukup bila kaum muslimin yang lain telah banyak yang mempelajari teori ilmu Tajwid, karena -sekali lagi- mempelajari teorinya hanya fardhu kifayah. Akan lain halnya dengan orang yang tidak mampu membaca Alquran sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu Tajwid. Menjadi wajib baginya untuk berusaha membaguskan bacaannya sehingga mencapai standar yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam
Dalam ilmu tajwid terdapat berbagia jenis hukum pengucapan atau pelafalan huruf-huruf al-qur’an.seperti idhar,ikhfa,iklab,idgham dan lain sebagainya.dalam membaca huruf-huruf al-qur’an kita tidak bisa sembarangan harus sesuai dengan kaidahnya.seperti membunyikan huruf-huruf hams dan huruf-huruf qalqalah
Al-qur’an merupakan kitab yang paling sempurna diantara kitab-kitab yang lainnya untuk itu dalam membacanya haruslah benar, agar ayat-ayat yang kita lantunkan itu enak didengar.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Hukum Hams (اَلْهَمْسُى )
Hams menurut bahasa ialah hisul khaf (  الْخَفِيِّ حِسُّى  ) , artinya perasaan yang halus[1]. Sedangkan menurut istilah Hams adalah :
يَانُ النَّفْسِ عِنْدَ النُّطْقِ بِالْحَرْفِ لِضَعْفِ الْاِعِتْمَادِ عَلَى الْمَخْرَجِ
Keluarnya atau berhembusnya nafas ketika mengucapkan huruf karena lemahnya tekanan terhadap makhraj huruf tersebut[2].
Adapun huruf-huruf hams jumlahnya ada sepuluh, yakni :
ف ح ث ه ش خ ص س ك ت
kesepuluh hurf ini terkumpul dalam kalimat :
فَحَثُهٗ شَخْصٌ سَكَتَ
Cara membunyikan Hams adalah seperti mengembuskan atau seperti mengeluarkan nafas, baik tat kala huruf Hams dalam keadaan berharakat maupun bersukun, kecuali huruf kaf ( ك ) dan ta’ ( ت )   , keduanya hanya terlihat Hams-nya ketika bersukun atau tat kala di baca waqaf[3].
Sifat hams ini termasuk ke dalam sifat mutadladah
Artinya sifat-sifat yang mempunyai lawan, mempunyai lawan artinya , setiap sifat mempunyai satu sifat yang menjadi lawannya. Dan lawan dari sifat Hams ini adalan sifat jahr. Adapun jahr artinya berkumandang dan jelas.
Contoh – contoh bacaan yang didalamnya terdapat huruf Hams adalah sebagai berikut :
Huruf Hams
Berharakat
Bersukun
ف
فَاِذَانُفِخَ
مِنْ اَفْوَاهِهِمْ
ح
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
مَحْمُوْدًا
ث
ثَلَاثَةُ
مَثْنَى
ه
مِنْ اَفْوَاهِهِمْ
اِهْدِنَا
ش
شُعُوْبًا
لَايَشْعُرُوْنَ
Huruf Hams
Berharakat
Bersukun
خ
خَتَمَ
يَخُتَصِمُوْنَ
ص
مِنْ صَلْصَالٍ
اِصْلَاحٌ
س
سَخَّرَ
يُوَسْوِسُ
ك
-
اَللّٰهُ اَكْبَرُ
ت
-
فَتْحٌ
2.2 Qalqalah ( اَلْقَلْقَلَةُ )
Qalqalah ( اَلْقَلْقَلَةُ ) menurut bahasa artinya :
اَتَّحْرُّكُ وَاْلِاضْطِرَابُ
Bergerak dan gemetar
Sedangkan menurut istilah qalqalah ialah :
صَوْتٌ زَاِٮِٔدٌ قَوِيٌّ جَهْرِيٌّ يَحْدُثُ فِيْ مَخْرَجِ الْحَرْفِ السَّاكِنِ بَعْدَ ضَغْطِهِ
            Suara tambahan ( pantulan ) yang kuat dan jelas yang terjadi pada huruf yang bersukun setelah menekan pada makhraj huruf tersebut[4] . Huruf – huruf qalqalah ada 5 yaitu :
qaf ( ق ) , tha’ ( ط ) , ba’ ( ب ) , jim ( ج ) , dan dal ( د ) .
Seluruhnya terkumpul dalam kalimat :
قُطْبُ جَدٍ
Dalam nahzam di jelaskan :
وَبَيِّنَنْ مُقَلْقَلًا اِنْ سَكَنًا   #  وَاِنْ يَكُنْ فِى اْلوَقْفِ كَانَ اَبْيَنَا
            Dan qalqalahkan lah dengan jelas apabila terdapat ( huruf  qalqalah ) yang bersukun dan dalam keadaan waqaf[5] .
Dalam ilmu tajwid qalqalah terbagi menjadi dua, yaitu Qalqalah Shugra dan Qalqalah Kubra.
1.      Qalqalah Shughra
2.      Qalqalah Khubra
2.2.1 Qalqalah Shughra ( قَلْقَلَةُ صُغْرٰى )
Shughra artinya kecil , qalqalah shughra menurut istilah ialah :
فَاِنْ كَانَ سُكُوْنُهَا اَصْلِيَّا فَهِيَ صُغْرٰى
Jika huruf qalqalah bertanda sukun ashli, maka ia dinamakan qalqalah shugra[6].
Dalam kitab Al-Qaulus Sadid dijelaskan pengertian qalqalah shugra yang lain, yaitu :
فَمَا سَكَنَ مِنْهَا  فِيْ وَسْطِ اَلْكَلِمَةِ يُسَمَّى قَلْقَلَةُ صُغْرَى
Apabila huruf qalqalah tersebut bersukun ditengah kalimat, maka dinamakan qalqalah shugra[7].
Berdasarkan dua definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa Qalqalah shugra terjadi pada dua kondisi, yaitu apabila huruf Qalqalah :
1.                  Bersukun ashli[8]
2.                  Bersukun ditengah kalimat.
Cara pengucapan qalqalah ialah dengan menekan kuat makhraj huruf dari huruf qalqalah yang bersukun tersebut sehungga suaranya memantul dengan pantulan yang kuat dan jelas. Untuk huruf qaf ( ق ) dan tha’ ( ط )  pantulannya mendekati suara “o” karena kedua huruf ini bersifat isti’la, sednagkan untuk huruf yang lainnya terdengar mendekati suara “e”[9]. bahkan, suara ini pun cenderung berubah-ubah tergantung  pada harakatdari huruf sebelum dan sesudahnya.
Adapun contoh-contoh qalqalah shugra adalah sebagai berikut :
Huruf Qalqalah
contoh
dibaca
Q.S.
ق
رَزَقْنَاهُمْ
Razaqnāhum
2:3
يَقْطَعُوْنَ
Yaqtha’ ūna
9:121
ط
يَطْمَعُوْنَ
Yatma’ūna
7:46
اَلْمُطْمَٮِٔنَّةُ
Al-Muthma-innatu
89:27
ب
حَبْلٌ
hablun
111:3
مِنْ قَبْلِكَ
Ming qablika
2:4
ج
مُجْرِمُوْنَ
mujrimūn
44:22
تُجْزَوْنَ
Tujzauna
6:93
د
يَدْخُلُوْنَ
yadkhulūna
4:124
مُدْ بِرِيْنَ
Mudbirin
40:33
2.2.2         Qalqalah Kubra (قَلْقَلَةُ  كُبْرَى  )
Kubra artinya besar . qalqalah kubra menurut istilah ialah:
اِنْ كَانَ سُكُوْنُهَا عَارِضًا فِى الْوَقْفِ فَهِيَ كُبْرٰى
Jika huruf qalqalal bersukun aridly, karena si waqafkan , maka ia dinamakan qalqalah kubra.
Kemudian dalam kitab Al-Qaulus Sadid di terangkan pengertian qalqalah kubra yang lain, yaitu:
وَمَاسَكَنَ مِنْهَافِيْ  اٰخِرِالْكَلِمَةِ يُسَمَّى قَلْقَلَةُ كُبْرَى
Apabila huruf qalqalah tersebut bersukun diakhir kalimat, maka ia dinamakan qalqalah kubra.
Berdasrakan definisi diatas , dapat disimpulkan bahwa qalqalah kubra terjadi apabila huruf qalqalah :
1.         Bersukun Aridli karena diwaqafkan. Dengan kata lain huruf tersebut asalnya berharakat tetapi menjadi bersukun karena dibaca waqaf.
2.          Bersukun diakhir kalimat.
Pengucapan qalqalah kubra sama dengan cara pegucapan qalqalal secara umum, namun harus lebh berkumandang dan lebih jelas dibandingkan dengan pengucapan qalqalah shugra. Bahkan, pengucapan qalqalah kubra harus lebih kuat lagi tata kalahuruf qalqalah yang diwaqafkan tersebut dalam keadaan bertasdid.
Adapun contoh-contoh qalqalah kubra adalah sebagai berikut :
Huruf Qalqalah
contoh
Dibaca
Q.S.
 ق
مَاخَلَق
Mā khalaq
113:2
بِالْحَقِّ
Bil haqq
16:3
ط
مُحِيْطُ
Muhith
3:120
رِبَاطٍ
Ribāth
8:60
ب
حِسَابٍ
hisāb
3:27
وَتَبَّ
Wa tabb
111:1
Huruf Qalqalah
contoh
Dibaca
Q.S.
ج
بَهِيْجٍ
bahij
22:5
اَلْمَعَارِجِ
Al- Ma’ārij
70:3
د
لَشَديْدٌ
La Syadid
100:8
اَللّٰهُ اَصَّمَدُ
Allāhuh shamad
112:2
Bila ditinjau dari kekuatan dan kejelasan suara pantulan dari huruf-huruf qalqalah, maka kita dapat membagi untuk huruf tersebut kedalam tiga kelompok, yaitu :
1.   A’lā ( paling tinggi ). Maksudnya , paling kuat dan paling jelas pantulannya. Hurufnya adalah tha’ (ط   )
2.   Ausath ( sedang ), Maksudnya, suara pantulannya bersifat sedang atau pertengahan. Hurufnya adalah  jim (ج  )
3.   Adnā ( paling rendah ) Maksudnya  paling rendah suara pantulannya disbanding A’lā dan Ausath. Huruf-hurufnya ialah qaf (ق  ) , ba’ (ب  ) , dan dal (د )
Dan bila ditinaju dari kondisi yang menyertai huruf-huruf qalqalah dikaitkan dengan kekuatan dan kejelasan suara pantulan yang dihasilkan dari kondisi tersebut, kita juga dapat membaginya kedalam tiga bagian, yaitu :
1. Shaghir ( kecil ), yakni bila hirif qalqalah dalam keadaan bersukun ditengah kalimat dan bacaan pun diwashalkan contohnya huruf  ba’ (ب  ) pada lafadz “ qalbu” ( قَبْلُ )
2. Kabir ( besar ), yaitu bila huruf-huruf qalqalah disukunkan diakhir kalimat dan bacaan pun di waqafkan, contohnya huruf ba’(ب  ) pada lafadz “ adzāb” ( عَذَابٌ )
3.  Akbar ( paling besar ), yakni bila huruf qalqalah dalam keadaan bertasydid diakhir bacaan yang diwaqafkan, contohnya huruf qaf (ق  ) pada lafadz “ bil haqq” ( بِاالْحَقَّ )
2.2.3        Skema Qalqalah
SKEMA QALQALAH
اَلْقَلْقَلَةُ
صُغْرٰى
Huruf Qalqalah bersukun ashli ( ditengah kalimat )
كُبْرَى
Huruf Qalqalah bersukun ‘Aridli karena diwaqafkan ( di akhir kaliamat )
Contoh
حَبْلٌ
مُجْرِمُوْنَ
يَقْطَعُوْنَ
مُدْ بِرِيْنَ
اَلْمُطْمَٮِٔنَّةُ
Contoh
بِالْحَقِّ
وَتَبَّ
مُحِيْطٌ
اَصَّمَدُ
بَهِيْجٍ
 
HURUF-HURUF
ق
ط
ب
ج
د
Dikumpulkan dalam kalimat
قُطْبُ جَدٍ
 

BAB 3
PERMASALAHAN DAN PENYELESAIAN MASALAH
وَلَمْ يُوْلَدْ ۝
“Termasuk dalam kategori manakah lafadz diatas, Qalqalah shugra ataukah Qalqalah khubra?”
Menurut kami , khusus lafadz tersebut memiliki dua hukum, yang pertama disebut Qalqalah Shugra karena huruf dal tersebut bersukun dengan sukun ashl, jika bacaan pada ayat tersebut di washalkan ( disambung ) ke ayat selanjutnya. Yang kedua disebut Qalqalah Khubra karena huruf dal bersukun diakhir kalimat atau ayat, jika bacaan di waqaf atau berhenti diakhir ayat tersebut.
“ Apakah Hams ini hanya diterapkan pada huruf Ta' saat huruf Ta mati seperti pada ayat : TABBAT(c) (c=desis Hams), atau kah semua Ta di Hams seperti huruf Ta diawal ayat tsb diatas sehingga bunyinya bukan TABBAT(c) lagi tapi T(c)ABBAT(c) dst”.
Hams artinya mendesis, artinya ketika mengucapkan huruf tersebut ada sedikit suara desisan mengiringinya. Ta merupakan salah satu huruf hams, yang berjumlah semua 10 huruf yaitu :
 ف ح ث ه ش خ ص س ك ت
Karena hams bersifat lazim (keharusan) pada huruf Ta', maka harus dibaca hams, baik dalam keadaan mati maupun yang hidup. Hanya saja yang membedakan dalam kondisi mati dan hidup adalah pada besar atau kecilnya (kuat dan tidaknya hams tersebut). Adapun Tha' merupakan salah satu huruf yang mempunyai sifat hams dan syiddah (kuat), sebagaimana yang diungkapkan oleh para ahli ilmu philology (ilmul Ashwat) dan Qiraat, tho' sama seperti ta', yang membedakan keduanya hanyalah terletak pada keadaan lidah saat mengucapkan huruf Tho', berbentuk menyempit dan agak menempel dengan langit-langit mulut.
BAB 4
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan diatas penulis menyimpulkan bahwa hams  menurut bahasa adalah perasaan yang halus. Sednagkan menurut istilah ialah kleuarnay atau berhembusnya nafas ketika mengucapkan huruf karena lemahnyatekanan terhadap makhraj huruf tersebut.
Adpun huruf-huruf nya ada sepuluh,yaitu :
ف ح ث ه ش خ ص س ك ت
Adapun cara membunyikan hams adalah seperti  menghembuskan atau mengeluarkan nafas, baik tat kala huruf hams dalam keadaan berharakat maupun bersukun kecuali huruf kaf ( ك ) dan ta’ ( ت )   , keduanya hanya terlihat Hams-nya ketika bersukun atau tat kala di baca waqaf .
Sedangkan qalqalah yaitu membunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara yang memantul keluar dari makhraj  hurufnya  atau  dengan  suara  tertentu,  karena  huruf  tersebut mati atau hidup tetapi membacanya waqof / berhenti.
 Huruf-huruf qalqalah ada 5 yaitu : ق ط ب ج د
  Qalqalah dibagi menjadi 2 :
a.         qalqalah shughra, yaitu apabila qalqalah itu mati dan pada umumnya terletak di tengah kata.
Contoh : رَزَقْنَاهُمْ
b.        qalqalah khubra, yaitu apabila qalqalah tersebut berada di akhir kata bertanda baca hidup tapi dibaca mati karena diwaqafkan / dihentikan. Tetapi bila tidak di waqofkan maka bukanlah qolqolah.
Contoh : اَللّٰهُ اَصَّمَدُ
              Adapun cara membaca qalqalah shughro ialah dengan memantulkan suara dari makhroj hurufnya dengan pantulan tidak begitu kuat. Dan cara membaca qalqalah khubra dengan memantulkan suara dari makhroj hurufnya dengan pantulan kuat.
Bila ditinjau dari kekuatan dan kejelasa suara pantulan dari hurufnya qalqalah dapat di bedakkedalam tiga kelompok, yaitu :
1.      A’lā ( paling tinggi ). Hurufnya adalah tha’ (ط   )
2.      Ausath ( sedang Hurufnya adalah  jim (ج  )
3.   Adnā ( paling rendah ) Huruf-hurufnya ialah qaf (ق  ) , ba’ (ب  ) , dan dal (د )
Dan bila ditinaju dari kondisi yang menyertai huruf-huruf qalqalah dikaitkan dengan kekuatan dan kejelasan suara pantulan yang dihasilkan dari kondisi tersebut, kita juga dapat membaginya kedalam tiga bagian, yaitu :
1. Shaghir ( kecil ), contohnya huruf  ba’ (ب  ) pada lafadz “ qalbu” ( قَبْلُ )
2. Kabir ( besar ), contohnya huruf ba’(ب  ) pada lafadz “ adzāb” ( عَذَابٌ )
3. Akbar ( paling besar ), contohnya huruf qaf (ق  ) pada lafadz “ bil haqq” ( بِاالْحَقَّ )

DAFTAR PUSTAKA
1.      Abdurrohim, Acep, lim. 2003. Pedoman ilmu tajwid lengkap. Bandung : Diponegoro.
2.      www.alqur’anindonesia.com
3.      Al’aliyy. 2000. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung : CV Penerbit Diponogoro.
4.      Sjafi’I, A. Mas’ud. 1967. Pelajaran tajwid. Bandung : Putra jaya
5.      Hidayat, E.1986. Pelaran ilmu tajwid. Cetakan ketiga.


[1] Al-Qaulus Sadid, hal. 9.
[2] Ar-Raid fi Tajwidil Qur’an, hal. 43.
[3] Yakni tat kala bacaan dihentikan ( lhat tajwid Al-Qur’anul karim. Hal. 45
[4] Al Qaulus Sadid, hal. 1. Ustadz Mas’ud Sjafi dalam pengantar pembahasan tentang Qalqalah menganalogikan qalqalah seperti bola yang jatuh ke tanah, kemudian memantul lagi ke atsa
[5] Matan Al-Jazariyyah, hal. 17.
[6] Hidayatul Mustafid, hal. 20. Lihat pula Mursyidul Wildan hal. 28
[7] Al-qaulus Sadid, hal. 11
[8] Huruf yang bersukun ashli ialah huruf yang secara hakiki memang bersukun atau dalam keadaan mati selamanya, baik ketika waqaf maupun washal.
[9] Maksudnya “e” seperti dalam kata jejaka, bukan “e” seperti pada kata cabe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar